Untuk Yang Lagi Berjuang (Sendiri)

Beberapa hal dalam hidup.. memang butuh diperjuangkan sendiri

“Barakallah”

Begitulah cerita ini dimulai.

Mulanya ini adalah kisah pertemuan yang berkesan. Bernaung dengan atap yang sama dan duduk beralaskan tikar yang sama.

Begitu hangat. Terasa dekat. Seperti keluarga.

Di asrama.

Banyak sekali ceklis amalan harian yang harus diselesaikan dalam sehari. Tapi kamu tak pernah merasa berat dan tak pula khawatir. Karena kamu tahu ada si fulan/fulanah yang akan membangunkanmu sholat malam.

Satu tahun, dua tahun berlalu.

Kamu berpisah dengan orang – orang yang kamu tahu akan sulit mencari teman seperti mereka. Dan inilah saatnya kamu membuktikan kepada dirimu sendiri tentang amalan yang dulu kamu pernah istiqomah dengannya.

“Barakallah. Semoga amanah”

Sudah menjadi rahasia umum. Kamu yang sudah dididik sedemikian ketat di asrama pastilah menjadi manusia yang akan di prioritaskan dibebankan amanah diluar sana.

Hari demi hari berlalu. Banyak sekali hal yang membuat risih prinsip mu. Tapi kamu masih bertahan. Dan itu bagus. Kamu tetap rutin sholat dhuha. kamu masih puasa senin kamis. kamu masih membaca zikir pagi dan petang.

Dan sampai suatu ketika, saat kamu mendengar ayat Al-Quran yang pernah kamu hafal. Dan fakta bahwa kamu tidak bisa melanjutkan ayat itu. Membuatmu tersadar.

” aku sudah jauh “.

Tidak ada lagi one day one juz yang dulu kamu baca.

Kamu tidak ingat kapan terakhir kali kamu muroja’ah hafalanmu.

Di Sholat dhuha mu tidak lagi kau gunakan untuk murojaah. Melainkan surat yang kamu tahu. Puasa sunnah yang kamu lakukan karena akan ada acara buka bersama. Zikir pagi-petang mu akhir-akhir ini sering lupa karena rapat , konsolidasi dan online meeting yang tak pernah berkesudahan.

Kamu mungkin merindukan dirimu yang dulu. Kamu merindukan teman-temanmu yang dulu. Kamu merindukan asrama dan semua aktivitasnya yang intens.

Akhirnya kamu menyadari, kamu merindukan imanmu yang dulu.

Akan tetapi, beberapa hal dalam hidup memang butuh diperjuangkan sendiri.

Seperti bayi yang mulai berjalan melangkah. Seorang ibu mungkin akan memegang tangannya, memanggil namanya. Namun tetaplah bayi itu yang kan berjuang mengukuhkan kakinya sendiri.

Dan, seperti kamu,

yang sedang berjalan sendiri,

tak apa-apa.

teruslah berdoa kepada Allah Ta’ala. Mintalah agar Allah senantiasa menguatkan keimanan didalam hatimu.

Last but not least,  

Selamat bertugas kepada teman-teman seperjuangan yang akan dan sedang beramanah di dunia kampus. Mungkin tak banyak yang bisa ku bantu sebagai teman. Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga kalian dijalan yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *