Kau, Tuan yang Tak Punya Rasa

Sebentar lagi, malam akan menjemput tidur di rebahan Ilahi. Sebentar lagi, pagi akan menuntut diberi kecupan di pipi. Sebentar lagi, daun-daun akan jatuh bersama angin pagi, mereka akan tidur lama sekali. Sebentar lagi, mentari akan mengintip dari balik kisi, berpendar memantu di segala sisi. Sebentar lagi, hujan akan mencipta kubangan air bersama rinai. Sebentar lagi, aku akan kembali bermimpi.

/

Aku pernah meringis sengaja. Di balik gorden berwarna merah tua, aku hampir mati rasa. Hingga senja berlalu aku tak kunjung jua menemukanmu bersama kejora.

/

Perkenalkan, aku wanita yang setiap senja mengabadikanmu dalam aksara. Kau tak perlu berburuk sangka, aku tak akan menyapamu walau Tuhan mengutus jumpa. Aku hanya meminjam namamu dalam coretan cerita. Ku harap semua abadi disana.

/

Aku, tak begitu jeli memahami cuaca. Bila badai itu di hatimu, semoga tulisan ini membuatnya reda.

Kau, Tuan yang tak punya rasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *