Ayah: Bentuk Cinta Tanpa Banyak Bicara

Terimakasih kepada Ayah yang sudah memenuhi ruang hatiku sejak pertama.

FitrianiPulungan

Ayahku berwatak keras, tekun, dan pekerja keras. Hubunganku dengan ayah memang tidak sempurna. Lebih sering beradu paham dan berselisih pandangan. Ada hal-hal yang membuat kami berseberangan. Ada banyak bekas luka yang ku dapat semasa kecil dulu, mulai dari jatuh saat memanjat pohon, tergores seng pembuat atap, tertusuk paku, sampai luka jahit di dagu. Semuanya berkat hal-hal nyeleneh yang diajarkan ayah.

Baginya, manusia harus seimbang. Punya kepintaran dan ketrampilan. Mungkin dia sering kesal melihat fisikku tidak sekuat anak lelaki, tapi ia tetap ingin aku mampu. Katanya sih, sebagai bekal hidup yang penuh ketidakpastian.

Ayah, dia juga pernah sabar mengoleskan salep pereda gatal pada kulitku karena tak tahan suhu dingin di sawah pada subuh hari. Katanya, suatu hari nanti apabila aku harus pindah ke desa lagi, aku sudah tidak bingung akan berbuat apa. Ayah juga selalu sabar membebat jempol kakiku yang berdarah akibat tergores gergaji saat mengajariku berkreasi. Katanya, kalau suatu hari nanti aku kehilangan segala ijazah dan harus pindah dari tempat semula, aku tidak kelaparan dan masih bisa hidup dengan berjualan perabot rumah.

Ayah, dia juga mengajariku membangun relasi. Mengelompokkan mana orang-orang yang bisa dipercaya dan hanya cukup sekedar kenal saja. Mana orang yang bisa diajak bekerja, mana orang yang tidak bisa diajak berusaha. Sudah sedari dulu juga, aku diajari jadi apa adanya, tidak membungkus manis perkataan jika tujuannya hanya untuk disenangi orang. Sebaik apapun orang, pasti ada yang tidak suka. Begitu katanya.

Ayah, dia juga mengatakan bahwa kebanyakan orang yang merasa lebih baik dari orang lain biasanya yang paling tidak tahu apa-apa. Mengaum supaya orang tak melihat aslinya yang lemah, besar di perkataan tapi nol diperbuatan.

Ayah akan tetap berada pada urutan pertama dalam daftar ‘bentuk cinta tanpa banyak bicara’. Yang selalu mampu lebih dulu memberi bukti daripada janji. Yang tidak sempurna dan berani mengakuinya. Yang berbuat salah dan tidak lari dari tanggungjawabnya. Ayah, punya tempat tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *